Monday, 28 November 2011

Penatalaksanaan pencegahan dan terapi stroke terkini dengan peran ahli Neurologi Intervensi

oleh : Fritz Sumantri Usman SpS,FINS


Stroke hingga kini masih merupakan penyakit pembunuh no 3 di dunia ( setelah jantung dan total kanker ) serta tercatat sebagai penyakit penyebab kecacatan no 1 di dunia . Angka penderita stroke masih amat sangat tinggi , dan setiap tahunnya jumlah penderita stroke selalu meningkat , baik itu stroke baru maupun stroke berulang . Seiring dengan semakin perdulinya masyarakat tentang tingginya angka kejadian stroke dan tingginya angka berulangnya / kekambuhan suatu penyakit stroke , maka ilmu pengetahuan khususnya bidang neurologi terus melakukan pengembangan dan terobosan terobisan yang diyakini mampu untuk setidaknya mengurangi angka kematian dan kecacatan akibat serangan stroke dan yang terpenting adalah menekan kemungkinan timbulnya serangan stroke berulang .

Salah satu cara / terobosan yang mulai diminati dan mulai banyak ditanyakan oleh para konsumen jasa pelayanan kesehatan adalah pemanfaatan terapi neurologi intervensi dalam mengatasi dan mencegah terjadinya stroke .

Bagaimana pemanfaatan mesin angiografi dalam menekan , mengatasi dan mencegah timbulnya stroke akan kita bahas lebih jauh dalam tulisan ini, namun secara prinsip , dengan menggunakan mesin angiografi yang dioperasikan oleh seorang neurologi intervensi , dimana tindakan ini bukan merupakan tindakan pembedahan , maka resiko angka kematian dan kecacatan, biaya yang dikeluarkan , waktu tinggal di rumah sakit dapat ditekan secara optimal.

Seorang neurologist intervensi , menggunakan mesin angiografi dalam prosedur neuro intervensi untuk mendiagnosa, melakukan terapi , serta melakukan upaya pencegahan terhadap penyakit stroke , seperti contohnya dengan melakukan prosedur cerebral dsa ( tindakan diagnostic untuk mengetahui penyempitan pembuluh darah otak ), pemasangan cincing pada pembuluh darah otak , melakukan tindakan koil dan embolisasi pada pembuluh darah otak yang pecah , melakukan terapi penghancuran thrombus dan memberikan terapi perangsang pertumbuhan neuron ( satuan fungsional saraf ) .

Berikut akan kami jabarkan secara singkat dan jelas masing masing dari kegunaan terapi tersebut .

Cerebral DSA ( Cerebral digital substract angiografi ) .

Cerebral DSA adalah tindakan yang berupa penyuntikan kontras ke dalam pembuluh darah untuk melihat penyempitan ataupun penyumbatan yang mungkin saja terdapat di pembuluh darah menuju otak atau di otak . Tindakan ini merupakan tindakan gold standard ( baku emas – paling sahih ) untuk melihat berapa derajat penyempitan yang terjadi ; mengapa mengetahui dengan pasti derajat penyempitan menjadi hal yang sangat penting untuk mengoptimalkan usaha pencegahan stroke berulang , dikarenakan dengan mengetahui secara pasti berapa derajat penyempitan yang terjadi , maka dapat disusun dengan optimal terapi medikamentosa yang diperlukan , khususnya untuk menekan progresivitas pertumbuhan stenosis .

Pemberian terapi penghancur thrombus ( thrombolysis )

Thrombus adalah suatu materi yang menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah otak sehingga aliran darah tersumbat yang pada akhirnya menyebabkan stroke . FDA Amerika , telah menyetujui pemberian zat penghancur thrombus berupa rtPA pada stroke stroke penyumbatan , dengan kriteria :

- Bila diberikan secara infuse intra vena , maka waktu kejadian stroke hingga pemberian rtPA tidak boleh lebih dari 4,5 jam

- Bila diberikan secara intra arterial melalui kateter , maka waktu kejadian stroke hingga pemberian rtPA tidak boleh lebih dari 6 jam

- Bila dilakukan upaya penghancuran thrombussecara mekanik , maka waktu kejadian stroke hingga dilakukan upaya penghancuran thrombus tidak boleh lebih dari 8 jam

Jadi jelaslah , bahwa apabila seseorang terkena stroke , untuk mendapatkan hasil terapi yang optimal , maka secepat mungkin datang ke pusat pelayanan kesehatan yang sudah dapat memberikan terapi thrombolyis ini , dimana seorang neurologist intervensi akan melakukan penatalaksanaan / prosedur non operatif tersebut .

Pemasangan stent ( cincin ) pada pembuluh darah

Pemasangan stent pada pembuluh darah otak bertujuan untuk menekan angka stroke berulang ; mengapa stroke berulang harus dihindarkan , karena sudah menjadi hal yang nyata bahwa stroke yang datang selanjutnya selalu lebih mematikan dan menimbulkan kecacatan disbanding stroke sebelumnya , untuk itulah bila ditemukan adanya penyemppitan ( stenosis ) sebesar minimal 60% pada pembuluh darah di otak atau pembuluh darah yang menuju otak, maka sebaiknya dilakukan pemasangan cincin tersebut .

Pemasangan koil dan terapi embolisasi pada stroke perdarahan

Bila pada stroke penyumbatan kita sudah mengenal beberapa terapi untuk mengatasinya ( thrombolysis, thrombektomi dan pemasangan stent ) , maka untuk stroke perdarahan , dengan bantuan mesin angiografi kita sudah dapat mencari tahu apa penyebab dari perdarahan pada kondisi stroke . Bila penyebab perdarahan tersebut , timbul akibat adanya kelainan pada pembuluh darah otak seperti terjadinya kasus aneurisma ataupun sambungan arteri vena yang tidak normal , maka seorang neuro intervensi dapat melakukan terapi koil ataupun embolisasi , sehingga penyebab perdarahan tersebut dapat ditekan kemungkinannya untuk kembali pecah . Hal ini sangatlah penting , karena kita tahu pada stroke perdarahan , angka kematiannya amatlah tinggi ( 40%-60% ).

Demikianlah , sedikit tinjauan singkat dan popular mengenai kemajuan yang sudah dicapat oleh ilmu pengetahuan khususnya bidang spesialis neurologi , guna membantu penatalaksanaan stroke , baik itu yang bersifat penyumbatan maupun perdarahan , entah itu pada fase pencegahan, fase akut maupun kronis .

2 comments:

  1. Ingin berbagi cerita; bagi penderita stroke penyumbaan yg sedang dalam pengobatan dg pengencer darah semacam plavix atau aspirin, harap berhati2 jika mengkonsumsi ekstrak kulit manggis. Tiga hari setelah mengkonsumsi ekstrak kulit manggis, terjadi pendarahan yg cukup parah pada ambeien rekan sekantor saya, baru berhenti sekitar 24 jam setelah pemberian vitamin K di RS. Setelah menghentikan mengkonsumsi ekstrak kulit manggis(krn ada kecurigaan bahwa pendarahan itu ada hubungannya dg ekstrak kulit manggis), rekan tsb kembali mengkonsuminya (krn dorongan ingin cepat sembuh) pd beberapa minggu setelah kejadian pendarahan yg pertama, dan , kembali, tiga hari setelah mengkonsumsi ekstrak kulit manggis, terjadi lagi pendarahan. Dugaan dokter di RS; interaksi obat pengencer darah dg ekstrak kulit manggis meningkatkan resiko pendarahan parah. Tetapi itu hanyalah dugaan yg perlu penelitian lebih lanjut. Sebaiknya berhati2, atau hindari saja mengkonsumsi ekstrak kulit manggis jika sedang dalam pengobatan dg pengencer darah.

    ReplyDelete
  2. Ekstrak kulit banyak mengandung tanin yg bersifat konstipan, sehingga menyebabkan kesulitan buang air besar. Hal ini yang memperparah gejala ambeyen. Pemakaian aspirin memperparah pendarahan.

    ReplyDelete