Sunday, 24 February 2013

Brainwash, Terobosan atau Kecerobohan Medis?

oleh : Dr.dr. P. Pambudi
Neurologist & Farmakologist


Kisah Dahlan Iskan yang menjalani brainwash di RSPAD yang katanya sukses telah membuat masyarakat semakin ingin tahu dan ingin mencoba “brainwash” ala dokter T, maklum beliau adalah wartawan handal yang piawai menulis dengan gaya yang renyah dan menarik hati. Namun perlu digaris bawahi beliau adalah menteri dan manager yang hebat namun soal pengetahuan tentang prosedur medis perlu kami memberi masukan agar pak DI dan juga masyarakat mendapatkan informasi berimbang, obyektif dan ilmiah tentang “brainwash” atau disingkat BW ini

Dalam berbagai kisah BW di media selalu disebutkan bahwa metoda ini yang pertama di dunia, dan baru dr. T yang bisa melakukan.  Sebagai  sejawat saya berbaik sangka bahwa bukan beliau yang menyatakan demikian tetapi sang penulis artikel yang terlalu hiperbola, sebab bila benar dr T yang mengklaim, sungguh melanggar etik kedokteran dengan membanggakan diri lewat media. Kembali saya berbaik sangka bahwa metoda dan obat itu benar dr T yang temukan, ada satu hal yang sangat prinsip dalam dunia kedokteran yang dilanggar yaitu KEHATI-HATIAN.

Pak DI dan kebanyakan pembaca awam mungkin tidak tahu bahwa dunia kedokteran sangat mengutamakan SAFETY, setiap obat baru yang ditujukan untuk pengobatan pada manusia, harus melalui uji klinik yang sangat ketat, dimulai uji laboratorium pada hewan, uji klinik fase 0 dan 1 pada manusia sehat dalam jumlah kecil, uji klinik fase 2 pada individu sakit dalam jumlah terbatas dan uji fase 3 yang melibatkan ratusan individu sakit bahkan seringkali dilakukan multisenter diberbagai negara agar  didapatkan gambaran yang menyeluruh tentang keamanan dan efektifitas obat tersebut. Barulah bila terbukti aman dan efektif obat tersebut boleh digunakan dan dipasarkan secara luas termasuk dipromosikan lewat media. Proses ini memerlukan waktu setidaknya 10 tahun dengan biaya jutaan dolar.

Ketentuan ini adalah  aturan baku yang dilaksanakan oleh Badan pengawasan obat dan makanan di Amerika Serikat, Eropa, Jepang dan Indonesia sendiri (BPOM telah menerbitkan “Good Clinical Practice ” versi Indonesia).  Dokter T sebagai dokter yang hebat tentu tahu aturan ini tetapi entah mengapa tidak mengindahkannya. Pengabaian terhadap protokol Safety ini memakan korban pada era 60-an Thalidomite sudah digunakan sebagai obat anti muntah pada ibu hamil tanpa melalui uji klinik yang lengkap, hasilnya ribuan anak lahir tanpa kaki dan lengan, semoga hal demikian tidak terjadi dalam hal BW ini.

Pak DI tidak boleh menyamakan tindakan dan obat medis dengan Tucuxi yang sudah dicoba di jalan umum sebelum lolos berbagai uji keamanan dan kita semua tahu hasilnya “braaaaak” untung beliau selamat (perlu diketahui semua pabrik mobil melakukan berbagai tes termasuk uji tabrakan untuk memastikan produknya aman). industri Farmasi dan Kedokteran menerapkan uji keamanan  jauh lebih ketat daripada industri otomotif.

Saya masih berbaik sangka mungkin dokter T sudah mengujinya pada hewan dan sukses sehingga saat ini beliau sedang berada di uji klinik pada manusia fase 1, 2 atau bahkan sudah di fase 3 (saya sangat bangga bila benar, sayangnya kok tidak) bila memang masih dalam penelitian maka semua pasien yang di BW tidak boleh dikenakan biaya, bahkan dokter T juga harus membayar asuransi untuk pasien bila terjadi komplikasi dari BWnya, pada kenyataannya pasien harus bayar yang menurut DI tidak sampai 100 juta rupiah, jelas bahwa dr T tidak berada dalam fase penelitian tapi sudah pada fase komersialisasi tanpa uji klinik yang lengkap, ini sudah termasuk pelanggaran dalam dunia kedokteran dan Farmasi.

BW yang dilakukan sejawat dr T sesungguhnya sudah dikerjakan juga oleh banyak ahli radiologi intervensi dan neurologi intervensi yang bahkan mungkin lebih terampil dii Indonesia, hanya mereka tidak menamakannya sebagai BW, mereka menyebutnya sebagai DSA (Digital Subtraction Angiography) suatu prosedur diagnostik untuk melihat kondisi pembuluh darah termasuk pembuluh darah otak. Tujuannya diagnostik bukan terapi atau bahkan prevensi stroke.

Para dokter ini menahan diri untuk tidak berpromosi karena memang belum ada data yang cukup untuk mendukung bahwa prosedur ini bisa untuk pengobatan dan pencegahan stroke. Para dokter ini memegang prinsip KEHATI-HATIAN. Perlu pembaca ketahui bahwa hingga saat ini tidak ada satupun guideline dari organisasi profesi neurologi dan radiologi internasional yang merekomendasikan DSA sebagai metoda pencegahan stroke.

Kami memahami bahwa bangsa yang tengah terpuruk ini haus akan segala sesuatu yang bisa menegakkan kepala, bila benar prosedur BW dr T adalah pertama di dunia dan sukses besar, tulislah di jurnal internasional ternama bukan di koran atau majalah lokal dan jangan lupa dalam jurnal tersebut disebutkan “Saya namakan prosedur itu Brain Wash dapat mencegah dan menyembuhkan stroke” kami tunggu jurnal tersebut terbit kalau memang dr T berani mempublikasikannya secara ilmiah bukan testimoni ala klinik TCM, saya akan angkat topi bila anda melakukannya (tapi saya sangat ragu dr T berani  publikasi ilmiah dgn jujur ). Jangan lagi bangsa ini jadi lelucon internasional karena tokoh pemerintahannya terburu-buru heboh tanpa meneliti terlebih dahulu (ingat kasus banyu geni, pupuk ajaib dan harta karun istana bogor)

Untuk pak DI sedikit kritik, bapak sering lupa bahwa anda saat ini adalah penyelenggara negara bukan bos Jawa Pos, dalam bergerak dan bertindak harus melihat aturan yang berlaku termasuk soal aturan SAFETY dalam bidang medis, cukuplah ngawur soal plat nomor Tucuxi yang palsu, jangan ngawur lagi dengan mempromosikan prosedur medis yang Kementrian kesehatan dan organisasi profesi kedokteran Indonesia (IDI) belum menerimanya bahkan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) menentangnya, itu namanya tidak menghormati wilayah orang lain. Promosi anda  bisa membahayakan rakyat bila dikemudian hari terbukti ada yg salah dengan BW ala dr T, minimal pak DI membahayakan kantong rakyat, 100 juta rupiah bagi pak DI seperti uang receh, bagi rakyat itu bisa berarti seluruh harta benda yg dipertaruhkan  untuk metoda pengobatan yang tidak jelas manfaat dan keamanannya

Brainwash : Hati-hati bila pejabat negara membuat statement

oleh : Dr.dr. Fenny L. Yudiarto SpS
          Doktor  dan keseminatan neuroscience dan neurologist


Ada beberapa statement dari pejabat negara yg sangat membahayakan masyarakat mis.
 statement dari Bpk Dahlan Iskan… yg mengatakan bahwa brain wash sangat bagus utk orang normal sehingga dapat mencegah stroke… kemudian statement ibu Menkes (saya kopi dari detik.com): “Sekarang yang dilihat adalah ada manfaat tidak? Kedua, apakah itu aman untuk pasien? Oleh karena itu harus ditulis hasilnya supaya bisa kita lihat dari sekian ribu orang yang sudah dilakukan, yang mendapat manfaat berapa banyak dan apakah ada yang mengalami side effect,” kata Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi kepada pers

Nah kedua staement ini sangat membahyakan masyarakat Indonesia dimana taraf ‘ kekritisan’ nya masih sangat rendah. mengapa saya katakan demikian… karena dengan adanya 2 statement di atas maka berduyun2 orang normal mengantri ke RSPAD dg dr. T utk di cuci otaknya sambil menyetor uang 100 juta ( sesuai dengan pernyataan DI di kompasiana). Seseorang yg memiliki 100 jt utk cuci otak berarti orang yg mampu, orang mampu biasanya pendidikannya paling sedikit lulus SMA…. Nah tapi taraf kekritisannya sama dengan mereka2 yg ngantri di rumah Ponari. Mengapa saya katakan demikian?

karena Brain wash itu dilakukan prosedur spt cateterisasi jantung, akan tetapi disini organ otak.. saat melakukan prosedur dgn DSA itu memakai heparin spy darah tidak membeku saat prosedur, juga dimasukki obat kontras, kontras ini tujuannya spy pembuluh darah bisa jelas apakah ada sumbatan atau ada aneurisma dll. bila ada sumbatan maka bisa di pasang stent pd pembuluh darah otak oleh seorg neurointerventionist, kalau aneurisma di clipping/coiling oleh seorg spesialis Bedah saraf. Kontras yg masuk akan terasa panas hangat (itu yg dikatakan rasa mint oleh DI di Kompasiana)… Jadi prosedur itu prosedur diagnostik BUKAN terapeutik membersihkan pembuluh darah…

membersihkan sumbatan di pembuluh darah otak, hanya boleh dilakukan 0-6 jam post stroke (jadi saat akut) dengan obat rtpa (rekombinant tissue plasminogen activator) apabila pasien dtg setelah fase itu, justru membahayakan karena bisa menimbulkan risiko perdarahan.

Stroke bisa karena sumbatan otak (infark) atau perdarahan (hemorrhagik), Nah yg dapat di injeksi oleh obat rtpa itu yang sumbatan saja. perdarahan tidak boleh. rtpa itu golongan obat thrombolitik artinya menghancurkan thrombus bekuan… kalau sdh terjadi perdarahan diberi rtpa justru darah semakin banyak dapat mengakibatkan kematian.

Utk stroke yg telah lama baik perdarahan maupun sunbatan… berarti sel saraf sudah mati (nekrosis) tidak ada manfaatnya di rtpa… krn sel sdh rusak, gorong2 dibersihkan sdh tidak ada gunanya, justru bahaya terjadi perdarahan dan kematian.

Statement ibu Menkes yg mengatakan asal ada manfaatnya… ini sangat bahaya… Manusia Indonesia bukan kelinci percobaan… apabila dr. T mempunyai metode baru diluar yg ada di guideline, sebaiknya dilakukan uji percobaan secara klinik (clinical trial) yg melalui beberapa fase yi 0-IV.

Phase 0: Pharmacodynamics and Pharmacokinetics
Phase 1: Screening for safety
Phase 2: Establishing the testing protocol
Phase 3: Final testing
Phase 4: Postapproval studies

Dari pengertian di atas jadi jelas, Safety itu prioritas utama. kalau dr. T saat ini sedang melakukan clinical trial itu… pasien harus Free of charge tidak membayar dan mengisi informed consent yg jelas, dimana penelitian ini sdh dapat approval ethical clearnce dari badan etik.

Demikianlah sedikit info utk membuka cakrawala masyarakat yg telah ngantri untuk menyetor uang 100 juta… lebih baik uang itu utk rumah jompo dan yatim piatu, spy mereka mendoakan pen derma spy tdk kena stroke.

Brainwash : MEMBERSIHKAN GORONG-GORONG BUNTU DI OTAK DAHLAN ISKAN

oleh : Prof. Dr.dr. M. Hasan Machfoed SpS(K)
          Ketua PP Perdossi


Seperti biasa, tulisan Dahlan Iskan di Jawa Pos miliknya, selalu menarik perhatian. Renyah, segar, enak dicerna, seenak semanggi Surabaya. Dibawah kolom: “Manufacturing Hope”, pak Dahlan selalu memaparkan hasil kerjanya, baik ketika menjadi Dirut PLN maupun setelah menjadi Menteri BUMN. Dengan tulisan-tulisan itu, pak Dahlan dinilai masyarakat sebagai menteri yang kinerjanya terbaik. Memang benar, opini yang dibentuk pak Dahlan sulit dibantah, karena yang dikemukakannya adalah fakta. Fakta yang membentuk persepsi masyarakat, bahwa pak Dahlan seorang menager piawai.

· Tulisan pak Dahlan di Jawa Pos, Senin (18/02/2013) tak kalah menarik. Dibawah judul “Membersihkan Gorong-Gorong Buntu di Otak”, pak Dahlan bercerita secara rinci, bagaimana ketika otaknya dicuci oleh dr Terawan di RSPAD Gatot Subroto Jakarta.
· Seperti yang diceritakannya sendiri, cuci otak yang dilakukannya sekedar mencoba ingin mengetahui bagaimana rasanya, walaupun secara medis tidak jelas indikasinya. Dua minggu sebelumnya, otak isterinya juga dicuci. Kalau masalah mencoba, pak Dahlan memang biangnya. Jangankan cuma cuci otak, menabrakan mobil Tucuxi yang mungkin saja merenggut jiwa sudah pernah dicobanya. Fenomena mencoba pak Dahlan ini nampaknya dimiliki para petinggi lainnya, bisa dimaklumi. Sebagai orang awam di bidang medis, nampaknya para petinggi itu kesemsem dengan promosi gencar cuci otak. Mereka takut kena stroke, jadi perlu di prevensi dgn cuci otak. Siapa orangnya yang tidak ngeri, kalau ditakuti bakal terkena stroke. Sungguh suatu promosi intelektual yang jitu dan luar biasa. Prosedur Digital Subtraction Angiography (DSA) yang dilakukan pada cuci otak, telah dinaikan pangkat dari sarana diagnosis menjadi sarana terapi, bahkan juga dibengkokan menjadi sarana prevensi. Sesuatu hal yang salah kaprah menurut medis. Tentu dr Terawan amat suka cita dengan testimony pak Dahlan. Mungkin inilah pengakuan terhebat diantara lainnya. Termasuk testomoni Benny Panjaitan yang hasilnya diragukan. Dengan testimony ini dia memperoleh legitimasi sahih atas cuci otak yang dilakukannya, sekalipun belum terbukti sahih secara ilmiah. Dari sudut pandang ilmu kedokteran, testimony semacam ini, tak ada bedanya dengan testimony Klinik Tong Fang. Hanya bedanya, kali ini dilakukan oleh seorang petinggi yang dipercaya masyarakat. Dari sudut etika, seorang dokter tidak boleh melakukan tindakan tanpa indikasi medis jelas. Dokter yang satu ini memang unik. Padahal ada ribuan dokter spesialis yang ahli dibidangnya, tapi mereka tidak pernah berpromosi, karena memang dilarang oleh etika.

· Pada bagian lain pak Dahlan menulis sbb “Saya tahu, metode cuci otak Dokter Terawan ini masih kontroversial. Pendapat kalangan dokter masih terbelah. Masih banyak dokter yang belum bisa menerimanya sebagai bagian dari medical treatment”. Kalau saja ada 1000 dokter, 400 orang setuju metode cuci otak dan 600 lainnya menolak, itu bisa dikatakan pendapat yang terbelah, karena jumlahnya hampir seimbang. Namun kalau dari 1000, hanya 20 orang saja yang setuju, itu bukan terbelah namanya. Kenyataannya, lebih dari 98% masyarakat kedokteran Indonesia belum menerima cuci otak.

· Mengapa masyarakat kedokteran Indonesia belum menerima cuci otak? Jawabnya sederhana yaitu, mereka perlu penjelasan secara tuntas prosedur cuci otak itu. Jangankan pada masyarakat , pada forum ilmiah kedokteranpun dr Terawan enggan membukanya. Contohnya, tgl 4 Oktober 2011, ketika Tim Karotis RSCM yang diketuai Prof. Dr. Teguh Ranakusuma, Sp.S(K) minta keterangan dr Terawan obat apa yang dimasukan, beliau menolak menjelaskan. Tentu penolakan ini membuat para ahli RSCM itu kecewa. Sebenarnya kalau cuci otak yang dilakukan itu sesuai prosedur dan memiliki dasar ilmiah yang benar , tentu tidak perlu ada yang disembunyikan. Sikap ini tergolong unik, sekaligus langka. Dalam forum ilmiah, biasanya seorang dokter bersikap terbuka atas metode yang dilakukannya. Dari forum itu bisa dinilai dasar ilmiah dari tindakannya. Bila dinilai benar, maka yang bersangkutan memiliki legitimasi ilmiah dari koleganya. Bukan legitimasi testimony masyarakat yang kebenarannya diragukan. Merahasiakan suatu metode pengobatan, sangat bertentangan dgn etika kedokteran.

· Masyarakat kedokteran Indonesia tentu amat bangga bila seorang putra Indonesia menemukan terapi baru untuk stroke yang orisinil. Mungkin saja yang bersangkutan memperoleh hadiah Nobel. Tapi untuk sampai kearah sana sangatlah tidak mudah. Diperlukan integritas ilmiah yang baik, kejujuran ilmiah terpercaya dan memenuhi prosedur ilmiah baku. Kalau semua syarat itu tidak terpenuhi, jangan harap memperoleh hadiah nobel, memperoleh pengakuan ilmiah dari sejawatnya setanah air saja, sepertinya jauh panggang dari api.
· Atas sikap rahasia dr Terawan tentang obat yang dimasukan, masyarakat kedokteran Indonesia hanya bisa menerka-nerka. Satu-satunya obat yang mampu menghancurkan bekuan darah penyumbat aliran otak hanyalah golongan obat yang disebut thrombolysis. Diantaranya adalah, recombinant tissue plasminogen activator (rTPA), streptokinase dan urokinase. Obat ini sangat bahaya bila diberikan lebih dari 8 jam setelah menderita stroke. Bahaya terbesar adalah perdarahan otak yang bisa merenggut nyawa pasien. Sementara ini belum ada obat lain yang dapat menghancurkan bekuan darah. Dan obat ini dilarang diberikan sebagai upaya prevensi model pak Dahlan yang normal. Untuk lengkapnya silahkan klik http://en.wikipedia.org/wiki/Thrombolytic_drug Dari pola pikir diatas, pastilah cuci otak itu tidak menggunakan obat thrombolysis. Dr Terawan tentu tidak berani menganggung resiko perdarahan yang terjadi. Alasan lainnya, cuci otak ini diberikan kapan saja, tidak mengenal waktu kapan stroke mulai diderita. Lebih-lebih untuk tindakan prevensi untuk orang normal macam pak Dahlan, bahaya perdarahan semakin besar, karena obat ini akan merusak proses pembekuan darah normal. Jadi obat yang diberikan pada pak Dahlan itu, bukan thrombolysis, atau dengan kata lain pak Dahlan tidak memperoleh obat yang tepat untuk menghancurkan bekuan darah di otaknya.
· Atau mungkinkah pak Dahlan memperoleh obat baru yang berasa mint? Mungkin saja itu obat baru thrombolysis. Setiap penemuan baru dibidang kedokteran, pasti akan segera diketahui oleh masyarakat ilmiah kedokteran sedunia. Itu akan dimuat secara besar-besaran dalam journal ilmiah kedokteran yang jumlahnya ribuan. Sayangnya hingga kini obat thrombolysis masih seperti yang disebut diatas. Belum ada tambahan. Dari pengalaman beberapa neuro-interventionist, tidak ada satupun obat thrombolysis yang berasa mint.
· Seorang dokter yang melakukan tindakan medis harus mampu menciptakan suasana psikologis yang bisa menaikan kepercayaan pasien kepadanya. Sekali kepercayaan ini diraih, selanjutnya si dokter akan menguasai psikologis pasien. Adanya harapan bahwa otaknya akan dibersihkan oleh dokter yang sangat terkenal dan berpengalaman, itu saja sudah menyita 60% kepercayaan psikologis terhadap dokter. Tak beda ketika melihat performance pilot yang akan menerbangkan pesawat yang kita tumpangi. Rasa aman langsung terasa, ketika melihat pilot yang cocok dihati. Sisa psikologis yang 40% dituntaskan ketika proses cuci otak berlangsung. Itu antara lain tempat yang nyaman, sikap dokter dan perawat yang ramah penuh perhatian, dokter yang tak henti-hentinya menyanyikan lagu Di Doa Ibuku, mulut terasa pyar yang lembut disertai rasa mentos yang ringan ketika disuntik obat, termasuk memperlihatkan bentuk saluran darah yang seperti lambang Lexus sebelum dicuci menjadi lambang Mercy setelah dicuci. Itulah semua yang diceritakan pak Dahlan. Pada tahap kepercayaan psikologis yang mencapai 90% ini, apapun yang dikatakan dokter pasti diamini pasien.
· Ketika pasien diberi keterangan tentang beda antara gambar Lexus and gambar Mercy, pasien akan percaya. Pada tahap ini dokter telah meraih 100% kepercayaan psikologis pasien. Gambar diatas adalah beda lambang Lexus dan Mercy. Gambar Lexus yang memiliki 2 kaki (gambar kiri), dianggap sebagai ada pembuluh darah yang terbuntu. Setelah dicuci gumpalan darahnya, maka bentuknya menjadi lambang Mercy dgn 3 kaki (gambar kanan). Benarkah demikian? Gambar diatas itu adalah gambar angiografi otak normal. Tidak ada pembuluh darah yang buntu. Adanya perbedaan lambang Lexus dan Mercy hanyalah beda fase pengisian kontras. Apabila kontras belum terisi sepenuhnya, maka bentuknya spt Lexus, namun bila sudah terisi sempurna maka berubah menjadi bentuk Mercy. Jadi ada jeda waktu antara bentuk Lexus dan Mercy. Lexus lebih dahulu, baru kemudian Mercy. Dan ini yang paling sulit diterangkan pada cuci otak. Kalau saja ada pembuluh darah buntu sebesar itu pada otak pak Dahlan, pasti sebelum cuci otak, pak Dahlan mengalami kelumpuhan separuh badan. Faktanya, pak Dahlan tidak sakit apa-apa. Dan yang paling tak masuk akal, obat thrombolysis apa yang begitu fantastic yang dalam hitungan menit bisa menghancurkan bekuan yang begitu besar. Sebenarnya kalau mau, bisa saja pak Dahlan minta second opinion gambar angiografi itu pada ahlinya.
· Dari sudut neurology, tidak ada tindakan intervensi untuk mencegah stroke pada orang normal. Tindakan yang paling baik untuk mencegah stroke adalah menghindari factor resiko stroke. Itu, antara lain, hidup teratur penuh keseimbangan, olah raga, tidak merokok, tidak minum alcohol, mencegah kegemukan, menghindari stress, mengobati hipertensi, kencing manis, lemak tinggi dan lain-lain. Jadi tindakan intervensi pada orang normal untuk mencegah stroke, hanyalah omong kosong belaka.
· Pada bagian akhir, pak Dahlan menulis begini “Tapi, bagi yang sehat, antrenya sudah mencapai tiga bulan. Sebab, hanya sekitar 15 orang yang bisa ditangani setiap hari. Lebih dari itu, bisa-bisa Terawan sendiri yang akan mengalami perdarahan di otaknya”. Benar sekali pak, mestinya dr Terawan bisa mengajari banyak dokter agar antrenya tidak begitu panjang. Cuma saja mungkin beliaunya takut rejekinya menyusut, hick, hick, hick.

Saturday, 2 June 2012

Brainwash ( lagi........- terakhir ) 
oleh : Firdaus Sani, SpS,FINS



Begitu banyaknya keluhan pasien akan tidak bermanfaatnya “brain wash” akhir akhir ini pada kasus neurologi (saraf), menggelitik kita semua untuk memberikan dan meluruskan “kesalah-kaprahan” ini. Keluhan itu mulai dari “tidak berubah”-nya kelumpuhan pasien setelah tindakan, sampai penyakit-penyakit lain yang tidak ada hubungannya sama sekali juga dilakukan "brain wash", seperti vertigo perifer dan nyeri kepala semacam migrain, bahkan saraf kejepit pun di brainwash. Modusnya sangat mudah, pada pasien stroke, dijanjikan pemulihan yang luar biasa setelah tindakan (sebagaimana dimuat dalam majalah Tempo dan bisa diakses online). Pada pasien non-stroke, diberikan info bahwa nanti akan terjadi stroke dan kelumpuhan. Pasien dengan stroke yang membaik (tentu bukan karena “brain wash”-nya, tapi karena natural recovery) diundang untuk seminar awam, dan diberikan waktu untuk melakukan testimoni.
Keluhan yang lebih menyedihkan berasal dari seorang pasien tidak mampu, karena keinginan sembuhnya demikian besar, dengan berharap dapat beraktivitas normal kembali, pasien dan keluarga rela berhutang untuk tindakan “brain wash” yang tidak murah. Setelah tindakan “brainwash” mereka kembali kontrol ke Rumah Sakit pemerintah dengan menggunakan jaminan untuk masyarakat miskin (Jamkesda/Jamkesmas), dan mengeluhkan pada dokter saraf di rumah sakit tersebut bahwa tidak ada perbaikan pada stroke- nya, dan hutangnya juga belum terbayar.
Jauh lebih menyedihkan, beberapa kolega dokter, baik suaminya maupun orang tuanya juga dilakukan tindakan “brain wash” dengan tanpa meminta “second opinion” pada dokter spesialis saraf lainnya. Mereka baru menyadari setelah tindakan itu dilakukan, bahwa “brain wash” tidak memberikan manfaat.
Sekedar mengingatkan kembali, bahwa “brain wash” yang diklaim sebagai tindakan terapeutik adalah tindakan diagnostik semata. Obat-obatan yang di klaim sebagai “pencuci” adalah heparin yang memang lazim digunakan, bukan hanya untuk tindakan neurointervensi, namun juga cardiointervensi. Modus terakhir yang memprihatinkan, yang dilakukan beberapa sejawat yang melakukan brainwash adalah menyuntikkan LMWH (low molecular weight heparin) setelah tindakan, ini sebagai pengganti heparin, karena takut akan efek sampaing perdarahnnya, sedangkan yang diinjeksikan pada saat prosedur “brain wash” hanyalah cairan fisiologis (Normal saline 0,9%) yang biasanya dipakai untuk infus intravena.
Adanya “brain wash” di Indonesia telah menjadi pergunjingan di luar negeri. Sekali lagi, tidak satupun senter neurointervensi dunia yang merekomendasikan pengobatan semacam ini. Kerja keras para peneliti untuk mencari pengobatan stroke yang sangat efektif ternyata hanya diterjemahkan secara sederhana oleh dokter yang tidak menggeluti stroke.
 Bagi keluarga yang memiliki pasien stroke,apabila ada penawaran tentang “brain wash” ini, sebaiknya berhati-hati dan berkonsultasi terlebih dahulu serta mencari pendapat dari dokter lainnya, . Informasi ini mungkin bisa bermanfaat sebagai penyeimbang (counter discourse), disaat “brainwash” terus di kampanyekan tiada henti, meskipun sama sekali tidak memiliki dasar ilmiah kuat. “Brain wash” tak ubahnya sebuah pengobatan alternatif yang hanya menjanjikan banyak manfaat, sayangnya dilakukan oleh dokter spesialis yang menempuh pendidikan kedokteran formal.


Saturday, 28 April 2012

STROKE : CUCI OTAK ("Brain Wash"), BENARKAH BERMANFAAT ?

oleh : Firdaus Sani SpS,FINS / Fritz S. Usman SpS,FINS
Kalau kita googling dengan password “cuci otak,” maka akan muncul dari majalah T**** tulisan pada halaman Kesehatan sebagai berikut :

Sehat dengan Cuci Otak. Telah dikembangkan teknik cuci otak . Pasien stroke menahun dan lumpuh bisa kembali jalan.Jika dibuka artikelnya, ada pengantar sebagai berikut (artikel lengkap tidak bisa diakses) :Potongan lagu lawas Terlambat Sudah itu dinyanyikan Benny Panjaitan, dengan sedikit modifikasi, di atas ranjang rumah sakit. Suaranya lepas. Wajahnya cerah. Mengenakan kaus-T putih dan celana pendek hitam, vokalis grup Panbers, itu tak lelah mengumbar senyum. "Saya bahagia sekali karena sudah bisa mengeluarkan suara yang asli," kata Benny saat ditemui T**** di Paviliun K******, RS***, Selasa pekan lalu. Maklum, sejak dia mengalami stroke-pembuluh darah di otak kanannya pecah-Juni tahun lalu, suaranya tak bisa bebas keluar. "Mau keluarkan suara, tapi tertahan. Kesal," kata pria 64 tahun ini. (T**** 27 Juni 2011).Tak ayal, berita ini menyebar secara luas, informasi ini dibaca oleh kalangan awam maupun dokter. Bagi kalangan medis, informasi ini menjadi tanda tanya besar, benarkah pengobatan pasien stroke dengan cuci otak ini begitu hebatnya ? namun mengapa hanya ada di Indonesia dan tidak pernah dirilis dalam jurnal-jurnal ilmiah ? Bagi kalangan awam yang memiliki keluarga dengan stroke, ini merupakan angin segar, mereka segera mencari informasi atau bahkan langsung datang ke tempat bersangkutan.Berdasarkan informasi yang menyebar dalam beberapa mailing list, dokter yang melakukan prosedur “brain wash” ini menggunakan Heparin dan Integrilin (Eptifibatide) dalam prosedur cerebral DSA. Prosedur DSA dengan menggunakan heparin jamak dilakukan diseluruh belahan dunia, interventionist menggunakan dosis antara 3000-5000 U (40-60 U/kg). Sedangkan Eptifibatide adalah antiplatelet injeksi semacam Abciximab dan Tirofiban, dan memang banyak laporan diberikan untuk kasus stroke akut.Bagaimana sesungguhnya pengobatan a la “Brain wash” ini dari sudut pandang dunia kedokteran, neurologi  dan neurointervensi ?Telah disebutkan, bahwa penggunaan heparin dalam dunia neurointervensi merupakan sesuatu yang rutin dilakukan, hal ini dikarenakan saat tindakan dokter menggunakan kateter dan guidewire serte material lainnya (sesuai penyakit pasien) kedalam pembuluh darah. Heparin biasanya diberikan berupa flushing pada awal prosedur diagnostic, dan dapat dilanjutkan dengan continous infusion (heparinized saline) pada prosedur intervensi terapeutik. Sedangkan penggunaannya bersama antiplatelet injeksi secara bersamaan diberikan oleh operator dalam kondisi yang sangat khusus, biasanya pada kasus emergensi, misalnya terjadi komplikasi trombosis berulang saat tindakan dilakukan. Penggunaan kombinasi heparin dan antiplatelet injeksi tidak diberikan secara rutin dalam prosedur neurointervensi. Penggunaan kombinasi kedua obat ini pada prosedur intervensi dilaporkan memiliki komplikasi perdarahan intracranial ( perdarahan di dalam kepala )  yang fatal (Qureshi et.al, Journal Stroke 2002). Namun penggunaan masing-masing obat ini tanpa dikombinasi memberikan manfaat pada pasien.Kutipan dari majalah Tempo diatas perlu dilihat kembali dengan dasar ilmiah yang memadai. Kutipan bahwa dengan “brain wash” pasien stroke menahun dan lumpuh bisa berjalan kembali adalah menyesatkan. Ditambah lagi ungkapan bahwa Benny Panjaitan mengalami stroke berupa pecahnya pembuluh darah otak sebelah kanan. Apabila faktanya memang demikian (karena apa yang sesungguhnya dilakukan pada “brain wash” tidak pernah dipublikasikan secara ilmiah), ada beberapa hal yang perlu diluruskan. Pertama, pemberian heparin dan antiplatelet injeksi tidak dapat mengobati stroke yang sudah lama terjadi, apalagi megembalikan kelumpuhan. Heparin dan antiplatelet bekerja untuk mencegah terjadinya penyumbatan baru, bukan menghancurkan penyumbatan pada pembuluh darah. Jadi sifatnya preventif bukan kuratif. Kedua, penggunaannya pada kasus stroke perdarahan tidak pada tempatnya, kombinasi keduanya malah akan meningkatkan resiko perdaran otak, apa yang terjadi pada Benny Panjaitan mungkin hanyalah tindakan cerebral DSA (digital substraction angiography) rutin yang biasa dilakukan untuk mengetahui kelainan/ penyebab dari perdarahannya.Namun, apapun, adanya isu ini harus disikapi secara bijak. Memang dalam dunia kedokteran selalu ada inovasi-inovasi yang terus dikembangkan untuk kepentingan perbaikan kualitas hidup, tetapi tetaplah inovasi itu dilakukan berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan. Tanpa mengikuti kaidah ilmiah, pengobatan baru yang dianggap fenomenal tidak ubahnya seperti pengobatan “alternatif” yang banyak beredar di masyarakat ataupun pengobatan coba coba atau yang biasa kita sebut eksperimental.Diakui atau tidak, pengobatan stroke masih merupakan tantangan bagi dunia kedokteran. Banyak sekali neuro-intervensionist dunia yang saat ini konsen pada penatalaksanaan penyakit ini. Belum ada satupun laporan (setidaknya sampai saat ini) mengenai efektifitas kombinasi terapi diatas ( heparin + eptifibatide ) untuk stroke, yang ada justru laporan negatif tentang efek sampingnya. Tulisan ini setidaknya dapat memberikan tambahan informasi bagi siapapun yang ingin mengetahui bagaimana sesungguhnya “brain wash” yang fenomenal itu, terutama bagi masyarakat, yang awam akan dunia kedokteran.

Ditambah lagi , terapi brainwash ini tidak ada dalam standar pelaksanaan prosedur untuk stroke , di Seluruh Dunia, yang artinya apa , artinya bahwa terapi ini keamanan dan manfaatnya belum dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah , dimana dasar ilmiah adalah dasar yang paling penting untuk pertanggungjawaban seorang tenaga medis tersumpah pada saat menerapi pasien pasiennya.